Cerita Zahid
Dua hari terakhir ini Zahid merengek minta dibuatkan es krim nanas. Zahid adalah anak yang gigih. Jika sudah punya keinginan atas sesuatu, ia akan terus meminta hingga keinginannya tercapai, atau hingga keinginannya itu dapat di negosiasikan atau ditunda. Kebetulan jadwal rapat hari itu penuh dari pagi hingga malam. Saya mencoba memberi pengertian sekadarnya kepada Zahid, bahwa saya sedang sangat sibuk, dan tidak ada waktu untuk membeli nanas hari ini, serta berjanji akan membeli nanas esok harinya. Zahid terus merengek, tidak mau mengerti, dan mengulang-ulang bahwa ia ingin sekali es krim nanas.
Dengan nada tinggi, saya membentak Zahid, ‘Mimi lagi kerja, Zahid!’ Zahid cemberut sembari menangis, ‘kenapa Mimi kerja terus?!’ dengan nada marah. Saya tidak menanggapi Zahid, karena memang sedang di tengah-tengah rapat, dimana saya harus berbicara.
Pada sore harinya, menyadari bahwa saya salah atas respon saya yang reaktif, saya meminta maaf kepada Zahid. Saya peluk dia sambil memberi pengertian (kali ini dengan suasana hati yang lebih tenang) sekali lagi, bahwa tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi seketika, dan berjanji untuk membeli nanas dan membuat es krim bersama-sama esok harinya. Zahid, dengan tulus memaafkan saya.
Saya perhatikan Zahid adalah anak yang ekspresif. Terkadang jika sedang marah, Zahid akan mengeraskan jari-jarinya (seperti ingin mencakar), terkadang membanting mainannya. Jika saya dalam keadaan ‘sadar’ saya dapat membantu mengarahkan Zahid memanage amarahnya, menenangkan ia, memeluknya. Namun seringkali saya khilaf dan tidak sabar, bukannya menenangkan malah membentaknya. Alhasil, bukannya mereda, justru Zahid akan lebih marah. Jika Zahid sedang sedih sekali, Zahid akan diam dan menjauh atau menghindar dari saya, dan meneteskan air matanya diam-diam. Saya langsung tahu pasti Zahid sangat terluka atas ucapan atau tindakan saya. Jika melihat Zahid seperti itu, saya langsung mendekatinya, menciumnya, memeluknya dan meminta maaf berulang kali, sampai hatinya merasa tenang kembali. Jika suasana hatinya sedang bahagia, akan terpancar jelas sekali dari wajahnya. Zahid biasanya akan berkata, ‘Mimi, hidup Zahid menyenangkan sekali!’ lebih membahagiakan lagi jika mendengar celetukan Zahid yang spontan ‘Mimiii, Zahid sayang Mimi!’
Dan ini pun ia lontarkan ketika esokannya, saya memenuhi janji saya membeli nanas dan membuat es-krim bersama-sama. Saat es-krim sudah jadi, langsung Zahid mencobanya dengan mata berbinar-binar, ‘ini enaaak bangeeet, makasih mimii, Zahid sayang mimi!’ Ah Zahid, hal sekecil ini bisa membuat mu begitu bahagia!
Ibadah Hanna
Hanna sudah diperkenalkan dengan sholat sejak kecil. Biasanya Hanna akan ikut berjamaah shalat Maghrib di rumah bersama saya atau Neneknya (pengasuhnya). Ketika di awal-awal, Hanna sering bercanda dengan kakaknya saat shalat, atau berlarian kesana-kemari. Sebelum shalat dimulai pun, mesti melalui berbagai drama: entah rebutan sajadah dengan kakaknya, rebutan posisi, dsb. Dan tidak jarang Hanna merajuk tidak jadi ikut shalat karena berantem dengan Zahid. Perlu energi yang kesabaran untuk mengkondisikan anak-anak shalat.
Belakangan ini, Hanna menunjukkan perkembangan. Hanna sudah mau mengikuti shalat dari awal sampai akhir dengan khusyuk. Meskipun kadang Zahid masih suka mengusili Hanna ketika shalat, Hanna tetap khusyuk shalat,dan bisa menahan diri untuk tidak membalas keusilan kakaknya. ‘Wah Hanna anak shalehah! shalatnya pintar sekali sampai selesai!’ Saya memuji Hanna, dan ia senyum dengan bangganya. Hanna juga sudah hafal surat Al-Fatihah dengan sendirinya, meski pelafalannya belum terlalu jelas. Apalagi sejak Hanna memiliki mukena baru (yang ia pilih sendiri motif dan warnanya di Shopee!), ia lebih semangat ikut shalat berjamaah.
