Day 6: Menu makan Hanna dan Ibadah Zahid

Cerita Hanna

Menu makan kemarin adalah sayur sop bakso daging dan telur ceplok.  Hampir setiap meal, harus selalu ada telurnya! Yang dimakan lahap tentu telurnya, sementara sayurnya ‘dicuekin’ Hanna. Hari ini saya memasak cah udang dan brokoli, dan tahu kecap untuk Hanna. Alhamdulillah, Hanna makan dengan lahap.

Ya, Hanna adalah picky eater, dan susah makan. Ini adalah PR terbesar kami.

Hanna tidak suka sayuran. Sayuran yang bisa ia makan terbatas sekali yaitu: brokoli dan wortel (yang harus dipotong panjang-panjang, kalau dipotong kotak-kotak atau bulat-bulat tidak mau), jagung, dan jamur. Di setiap menu, saya selalu berusaha untuk menyajikan sayuran. Namun tidak mau disentuh kecuali yang disebutkan diatas. Bayam, kangkung, tauge, labu, buncis. Big NO. Padahal sejak kecil saya sudah memperkenalkan Hanna dengan bermacam-macam sayuran dan sering menceritakan Hanna tentang menfaat makan sayuran.  

Big NO lainnya adalah bawang-bawangan. Hanna bahkan bisa muntah jika tergigit daun bawang, bawang putih, bawang merah, ataupun bawang Bombay. ☹

Terkait dengan protein, Hanna bisa makan ikan, udang, daging sapi dan daging ayam (dengan pengolahan tertentu), tahu dan tempe. Hanna kurang suka makan yang bertekstur keras dan sulit untuk dikunyah. Oleh karena itu, daging sapi biasanya yang bisa dimakan Hanna adalah daging sapi cincang, atau yang sudah diolah menjadi bakso. Sama halnya dengan ayam, harus di cincang, di suwir, atau dibuat bakso. Ayam goreng bisa dimakan tetapi jenisnya pun ayam broiler. Hanna tidak bisa makan ayam kampung karena teksturnya yang alot.

Kami berikhtiar untuk menaikkan nafsu makan Hanna dan memperbanyak variasi makanannya. Kami khawatir dengan berat badan dan tinggi badannya. Hanna kami beri suplemen Kalsium, Vitamin D, DHA dan Omega, serta Zinc. Untuk ini, Hanna tidak masalah, justru dia doyan! Dalam waktu dekat, kami akan konsultasi ke dokter anak sub spesialis gizi dan penyakit metabolik untuk memaksimalkan tumbuh kembang Hanna.

Cerita Zahid

Yang paling rajin mendampingi aktivitas beribadah Zahid adalah suami saya. Begitu mendengar adzan, Abinya akan mengajak Zahid untuk shalat berjamaah di masjid. Selain Abinya, Zahid juga sering diajak oleh Akinya shalat berjamaah di masjid. Zahid girang sekali. Namun, ketika gelombang delta dan sekarang omicron, Zahid sudah tidak pernah lagi ke masjid. Terlebih, sekarang masyarakat disini banyak yang tidak memakai masker ataupun menjaga jarak saat shalat berjamaah di masjid. Tentu ini sangatlah berisiko.

Kini Zahid shalat di rumah saja. Setiap Abinya shalat, akan mengajak Zahid. Saya dan Hanna kadang ikut sebagai makmum. Jika Zahid tidak shalat dengan abinya, Zahid saya ajak shalat bertiga dengan Hanna.

Setelah shalat Maghrib, Zahid bergantian diajari membaca Iqro dan murajaah surat-surat pendek. Ada saatnya Zahid nurut, ada juga saatnya Zahid kabur2an, enggan membaca Iqra ataupun hafalan. Pernah beberapa kali saya memaksa Zahid untuk menghafal, tapi Zahid malah berontak, marah dan nangis cukup lama. Saya belajar, anak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksa, dan anak tidak enjoy, khawatir justru malah menghindar. Harus dibuat menyenangkan. Sekarang saya lebih santai mengajak Zahid menghafal. Setelah shalat sebentar saja, atau sebelum tidur, atau saat bermain lego.

Apa yang perlu dikembangkan? Zahid masih belum dapat mengikuti shalat dengan khusyuk. Zahid masih sering mengajak Hanna bercanda, mengusilinya, dan masih banyak gerak kesana kemari ketika shalat. Saya sering tidak sabar, sehingga sering berpisah shalatnya. Saya dengan Hanna, sementara Zahid bersama abinya.   

Bagaimana harapan saya? Harapan jangka panjang tentu Zahid rajin shalat 5 waktu di masjid. Untuk saat ini, harapan saya adalah Zahid bisa shalat dengan tenang (mampu menahan diri dari bercanda dan mengusili adiknya) ketika shalat. Zahid sudah hafal Al-Fatihah dan beberapa surat pendek. Harapan saya Zahid bertambah hafalannya. Dan bisa membaca bacaan shalat. Saat ini memang saya belum mengajari bacaan shalat. Baru surat-surat pendek saja.  

Tinggalkan Komentar