Day 7: Toilet training Hanna dan Harapan sekolah Zahid

Cerita Hanna

Toilet training Hanna terbilang cukup lancar dan paling mudah. Hanna lepas popok sekali pakai usia 1 tahunan. Hal ini karena Hanna sering melihat kakaknya Zahid, BAK dan BAB di toilet. Hanna suka meniru apa saja yang dilakukan Zahid, sehingga ketika melihat kakaknya BAK dan BAB di toilet, Hanna pun ingin melakukan hal yang sama. Sejak usia 1 tahun, Hanna sudah tidak mau pakai pampers. Hanna akan bilang ‘mau pipi’ jika mau BAK, jika mau BAB bilangnya juga sama, ‘mau pipi’  dan saya akan langsung membawanya ke toilet.

Karena Hanna tidak mau pakai pampers, setiap dibawa keluar rumah, saya biasakan Hanna untuk BAK dulu. Jika diperjalanan Hanna mau BAK dan BAB, dia akan bilang. Setiap malam sebelum tidur pun Hanna akan pipis terlebih dahulu. Jarang sekali peristiwa Hanna ngompol, bisa dihitung dengan jari.

Seiring dengan berjalannya waktu, Hanna sudah bisa membedakan ekspresi BAK dan BAB. Hanna akan berkata ‘mau pipis’ dan ‘mau ee.’ Namun Hanna belum bisa membasuh sendiri, masih meminta bantuan saya, abinya, atau pengasuhnya. Hanna anak pemberani, dia berani ke toilet sendiri, tidak minta ditemani. Jika sudah selesai, baru akan memanggil saya.

Saya menempel stiker doa mau masuk toilet di pintu toilet. Anak-anak saya bertanya, ini apa mimi? Saya jelaskan itu adalah stiker doa masuk toilet. Saya juga jelaskan adabnya, membaca doa, masuk dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan. Berhubung Zahid setiap mau masuk toilet akan heboh bertanya, mimi doanya gimana? kaki mana duluan yang masuk mi? Hanna juga ikut-ikutan. Begitu rutinitasnya setiap masuk toilet. Dan ketika keluar, juga bertanya, kaki yang mana miii?

Zahid

Saya bercita-cita ingin menyekolahkan anak-anak saya ke Tetum Bunaya sejak anak pertama. Kala itu membaca blog seorang Bunda di internet yang menceritakan kesan positif terhadap sekolah Tetum Bunaya. Alhamdulillah akhirnya tercapai di anak saya kedua, Zahid. Zahid baru bergabung saat memasuki TK B. Waktu itu saya ragu untuk menyekolahkan Zahid ke TK A karena pandemi, dan belajarnya pasti online. Dan kami putuskan untuk belajar di rumah saja.

Bagaimana kesan saya terhadap sekolah Tetum?  

Tak terasa Zahid sudah melewati 1 semester sekolah di Tetum, masuk semester 2 dan sebentar lagi mau masuk SD. Hal-hal yang saya sukai dari Tetum Bunaya. Pertama, sekolah ini mengedepankan pembangunan karakter anak, tidak hanya kemampuan akademis. Kedua, memberikan berbagai stimulus sensori dalam proses pembelajaran yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan taktil (sentuh), sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Ketiga, tidak memaksakan anak dengan target-target tertentu, tetapi disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak. Keempat, Tetum Bunaya turut ‘mendampingi’ orang tua untuk bertumbuh menjadi orang tua yang lebih baik, saya suka sekali. Kelima, suasanya sekolah yang ‘homey.’ Kedepannya mungkin yang perlu diperbaiki adalah gedung sekolah yang sudah terlihat tua dan membutuhkan peremajaan.

Harapan saya saat nanti Zahid sekolah di SD, Zahid dapat tumbuh menjadi anak yang berkarakter, mandiri, dan tetap mampu bersaing secara akademis. Saya ingin Zahid bahagia menjalani proses belajar dan tidak terbebani dengan kurikulum sekolah yang terlalu menekan anak.

Tinggalkan Komentar