Jurnalling Hanna dan Zahid
Mirip dengan pengalaman jurnalling sebelumnya, perasaan saya membaca kembali jurnal campur aduk. Ada perasaan haru, teringat kembali tingkah laku dan kelucuan anak-anak. Ada perasaan sedih, tak sadar betapa anak-anak ini cepat sekali tumbuh. Rasanya baru kemarin Hanna masih balita dan Zahid mau masuk TK, sekarang tiba-tiba Hanna mau masuk TK dan Zahid mau masuk SD. Ah, cepat sekali waktu berlalu. Juga ada rasa bersalah, merasa saya belum menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak ☹ Masih kurang sabar menghadapi anak-anak, kurang telaten mendidik anak, kurang menemani anak-anak bermain, dan masih banyak lagi.
Saya merasakan bahwa menulis jurnal ini memang bermanfaat. Seperti kata kak Endah, jurnaling memberikan kesempatan diri untuk melakukan monolog. Saya bisa jujur pada diri sendiri, mencurahkan perasaan, menyadari kekurangan dan kesalahan saya sebagai orang tua.
Harus saya akui, saya kesulitan menulis jurnal kali ini. Selain karena harus menceritakan tentang dua anak sekaligus, jadwal dan beban kerjaan kantor saya sangat padat sekali minggu ini, menguras waktu dan energi diluar hari-hari biasanya. Stimulasi yang diberikan kepada anak juga kurang maksimal. Sementara kegiatan menulis harus terus berjalan. Masih ada beberapa hari kedepan untuk memperbaiki. Semoga lebih baik!
Hanna
Sore hari ini saya mengajak anak-anak membeli buah di toko buah langganan kami dekat rumah. Stok buah di rumah sudah habis, sehingga anak-anak belum makan buah sejak pagi. ‘Mimi, Hanna mau ikut turun!’ ujar Hanna ketika sampai. Saya bebaskan anak-anak untuk memilih buah kesukaan mereka. Hanna juga sering membantu saya memilih buah-buahan ketika belanja di supermarket atau toko buah.
Meski sudah sore, Hanna tetap semangat. Pilihan pertama Hanna adalah salak, ‘Hanna mau salak Mimi!’ sembari memasukkan salak ke kantong plastik. Setelah itu, saya tawarkan dukuh. ‘Mau mau mi’ kata Hanna dan Zahid kompak. Mereka pun asyik memilih duku yang berukuran besar. Ketika saya tanyakan apakah sudah cukup, mereka membalas, ‘ini masih sedikit!’ Kami membeli salak, dukuh, jeruk, nanas dan pisang. Ya kami sekeluarga memang suka buah-buahan. Dan stok buah dirumah tidak pernah bertahan lama, 1-2 hari juga sudah ludes!
Setelah mencuci tangan, Hanna dan Zahid kemudian masuk mobil, dan mereka langsung makan salak. Ketika sampai rumah, salak yang tersisa tinggal 2 buah saja! (satu mobil ikut makan 😊) Malam hari itu, anak-anak mengambil dukuh dan jeruk. Buah-buahan sering kita jadikan sebagai camilan sehat.
Ya, Hanna memang suka buah-buahan. Buah favoritnya adalah mangga, anggur, dukuh, dan salak. Hanna juga bisa makan buah naga, apel, pir, melon, semangka, jambu air dan jambu batu. Ada satu buah yang Hanna sama sekali tidak bisa makan, alpukat. Sejak bayi, Hanna tidak bisa makan alpukat, dia akan langsung muntah. Sampai sekarang pun, Hanna tetap tidak bisa makan alpukat. Hanna juga tidak suka pepaya, tetapi tidak sampai muntah. Ada beberapa buah-buahan yang Hanna sedikit ribet untuk memakannya, jeruk dan rambutan. Hanna tidak suka jika ada kulit biji rambutan, ataupun serat2 putih di jeruk.
Selain dimakan langsung, saya juga sering membuat jus, salad buah, dan es krim buah. Dalam proses membuatnya, sering melibatkan Hanna untuk membantu saya (sekalian latihan motorik) Hanna sudah pandai memotong buah, dan mahir menuang. Jika saya buru-buru dan mengerjakan sendiri, Hanna akan protes, ‘Mimii, hanna kan pengen bantu mimi’ sambil nangis. Kalau sudah begitu, jadilah mengulang dari awal 😊
