Day 11: Membatasi penggunaan gawai

Di era digital ini, penggunaan gawai tidak dapat terhindarkan. Saya membatasi penggunaan gawai oleh Zahid. Setiap bermain gawai saya pasang alarm selama 10 menit. Biasanya akan diperpanjang 1x. Dalam sehari, Zahid paling sering tiga kali bermain gawai. Self-regulation Zahid sudah mulai berkembang dalam hal ini. Zahid biasanya meminta izin saya terlebih dahulu, meskipun sesekali masih suka mengambil hp saya diam-diam. Jika ketauan , saya akan menegur Zahid, dan Zahid akan langsung minta maaf. Saya suka mengawasi apa yang dilihat Zahid ketika main gawai, namun tidak selalu. Biasanya dia akan membuka you tube mencari inspirasi untuk membuat kreasi lego, menonton kartun, dan bermain game (balapan mobil).

Sebelum gelombang omicron melanda, saya suka mengajak Zahid jalan-jalan sore, atau bersepeda di setu babakan untuk aktivitas fisiknya. Dirumah, Zahid biasanya menghabiskan banyak waktu mengotak ngatik lego. Zahid sangat fokus jika sedang berkarya membuat sesuatu dari lego. Selain itu, Zahid juga sering menggambar. Dengan kesibukan-kesibukan ini, Zahid jadi teralihkan dari bermain gawai. Sabtu atau ahad, kami juga sering mengajak jalan-jalan Zahid untuk aktivitas outdoor, (bersepeda di Gelora Bung Karno), bermain ke alam terbuka, dsb. Sejak awal tahun, dan omicron mulai melanda, aktivitas di luar rumah, kami kurangi dan sekarang kami stop.

Yang perlu diperbaiki? Memperbanyak aktivitas, agar Zahid tidak bosan. Zahid biasanya akan minta main hp kalau bosan dan tidak ada kegiatan. Akhirnya lari ke hp. Ketika saya melarang, dia akan protes, “Zahid bosan mi, bosaaan! Terus Zahid ngapain dong.” Yang kedua, saya harus lebih intensif mendampingi dan mengawasi saat Zahid menggunakan gawai. Internet  menyeramkan sekali, bahkan iklan-iklan di You Tube saja tidak pantas dilihat oleh anak-anak.  

Tinggalkan Komentar