Day 9: Persiapan assessment Zahid dan Hanna – Mengobrol dengan Hanna

Persiapan assessment Zahid dan Hanna

Jujur, saya tidak melakukan persiapan apa-apa untuk assessment Zahid masuk SD, dan Hanna masuk TK. Hal ini karena hari asesmen mereka, bertepatan dengan acara besar berskala nasional yang harus saya fasilitasi. Ketika menerima surat pemberitahuan dari sekolah, saya bertanya kepada  pihak sekolah apakah jadwal asesmen Zahid dan Hanna dapat diganti, karena saya sangat ingin mendampingi anak-anak di momen penting ini. Namun pihak sekolah mengatakan sebisa mungkin sesuai jadwal, agar dapat berbarengan dengan teman-temannya. Jika di reschedule, Zahid dan Hanna akan sendirian. Dengan berat hari, saya dan suami putuskan Zahid dan Hanna akan tetap assessment di hari sesuai jadwalnya.

Malam harinya, saya hanya bisa mengkondisikan Zahid dan Hanna, bahwa saya tidak bisa menemani mereka pergi kesekolah esok hari. Perasaan saya sedih sekali dan sangat bersalah.  Ketika hari H, sebelum mereka berangkat ke sekolah, saya menyempatkan bertemu mereka, saya siapkan pakaiannya, mencium keningnya, memeluknya dan memberikannya semangat. Hanna bertanya, berharap saya bisa ikut menemaninya, “mimii, mimi ga ikut Hanna ke sekolah?” dengan matanya yang sendu. Ketika pulang sekolah, Zahid dan Hanna langsung lari ke ruang saya bekerja, menghampiri saya yang masih berkutat di depan laptop memandu berjalannya acara. Hanna masih memakai topi buatannya dan name tagnya, dengan mata berbinar-binar menunjukkan kepada saya hasil karyanya.  

Mengobrol dengan Hanna

Obrolan saya dengan Hanna hari ini seputar pengalamannya di sekolah ketika assessment. ‘Mimiii, tadi Hanna ketemu kak Nidia!’ Kak Nidia adalah guru Zahid di kelas Antariksa Putih Biru, sehingga sering melihat kak Nidia saat Zahid sedang zoom meeting. Saya tanyakan perasaaan Hanna. Hanna menjawab, “Hanna senang sekali Mimiii! Tapi tadi Hanna malu-malu sedikit.” Lalu saya menanyakan apa saja kegiatan yang dilakukan di sekolah. “Hanna tadi nyanyi, main” katanya seru. Hanna pun dengan semangat menunjukkan foto-fotonya saat di sekolah yang diambil oleh Abinya. “Mimi, liat nih mi, mata Hanna begini karena Hanna malu” menunjukkan foto di depan spanduk sekolah. Saya membalas, “kenapa Hanna kok malu, Hanna kan anak pemberani” sahut saya. Hanna lanjut menunjukkan video saat dirinya masuk ke sekolah dan mencuci tangan.

Hanna sebetulnya anak yang suka bicara. Hanya saja, Hanna memiliki kendala dan kesulitan dalam berbicara, terutama pelafalan beberapa huruf (k, g, s). Saya dan suami perhatikan Hanna belum lancar berbicara jika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Hanna aware bahwa dirinya belum lancar berbicara. Jika saya tidak paham atau salah memahami apa yang ia maksud, Hanna akan frustasi. “bukan, bukan itu!” kemudian Hanna akan berusaha berulang-ulang mengucapkannya. Jika akhirnya saya mengerti, Hanna bahagia sekali. Jika tidak paham juga, Hanna akan menangis dan marah. Hanna sering bilang, “Hanna ga bisa ngomong mimi..” selalu saya kuatkan, “Hanna bisa kok, nanti lama-lama juga akan lancar.” Setiap Hanna berbicara atau mengobrol, saya harus memberikan atensi ekstra untuk bisa menangkap maksudnya. Hanna  tidak suka kalau sedang berbicara, saya sambi dengan bekerja di dapur, di laptop atau mengerjakan hal yang lain. Harus kontak mata, merespon dan memberikan assurance bahwa saya mengerti ucapannya.

Saya dan suami berencana untuk memberikan terapi wicara untuk Hanna. Kami khawatir sekali jika nanti sudah masuk sekolah, Hanna bisa sangat frustasi saat teman-teman atau gurunya tidak dapat mengerti apa yang Hanna ucapkan. Kami khawatir, ini akan menggangu psikososialnya dan membuatnya menjadi tidak percaya diri. Kami meneguhkan hati kami, akan terus mendampingi Hanna, berjuang bersamanya dan menguatkannya.

Tinggalkan Komentar