Day 13: Kemandirian Hanna dan Rencana untuk Zahid

Kemandirian Hanna

Sebagai anak bungsu, Hanna justru relatif lebih cepat mandiri. Hanna suka meniru kakaknya, Zahid. Melihat kakaknya makan sendiri, Hanna ikut makan sendiri. Dalam beberapa hal, bahkan Hanna lebih mandiri dibanding kakaknya.

Dalam dua hari ini, seperti biasa setelah bangun tidur Hanna sikat gigi sendiri. Saya ambilkan odol dan sikat giginya, karena masih terlalu tinggi tempatnya. Sebelum mandi, Hanna memilih dan mengambil pakaiannya sendiri. Setelah mandi, Hanna pun memakai sendiri baju dan celananya. Baju kotornya ia masukkan ke dalam tempat pakaian kontor.

Dalam hal makan, Hanna sebetulnya sudah bisa makan sendiri, jika menunya mudah (tidak perlu dipotong2). Terkadang saya suka potong2 terlebih dahulu lauknya untuk memudahkan Hanna. Sebelum makan, Hanna sudah bisa cuci tangan sendiri. Dia naik bangku kecil, saya bantu nyalakan kerannya, dan dia akan tuang sendiri sabun kemudian mencuci tangannya sendiri. Sebelum makan, Hanna minum suplemen. Dia akan ambil sendiri botol suplemennya, kemudian dia buka kapsulnya dan dia tuangkan ke gelas. Saya akan bantu ambilkan air, kemudian Hanna sendiri yang akan mengaduk2 dan meminumnya. Hanna juga suka minum susu, dia biasa ambil sendiri gelas, ambil susu di kulkas lalu menuangkan susu ke gelas. Jika minta susu kurma, dia akan minta bantuan saya untuk mencampurkan susunya dengan sari kurma.

Hanna memang suka mencoba melakukan hal-hal sendiri. Dia bangga pada dirinya jika telah berhasil melakukan sesuatu sendiri dan langsung akan menceritakannya ke saya penuh gairah.  

Rencana untuk Zahid

Ketika ditanya tentang rencana Zahid 2, 4, sampai 6 tahun kedepan, jujur saya agak bingung. Merencanakan yang terkait dengan anak-anak tentu bukan keputusan saya sendiri, melainkan harus didiskusikan dengan suami dan juga Zahid tentunya!

Saya berprinsip tidak ingin memaksakan kehendak pada anak. Anak adalah individu otonom, yang perlu diperlakukan sebagai subyek, bukan obyek, serta harus dimintakan dan dihargai pendapatnya. Rencana yang paling dekat adalah Zahid masuk SD. Mendaftar MOTyB ini adalah salah satu ikhtiar kami untuk menyekolahkan Zahid ke SD. Saya dan suami juga telah berencana melakukan test IQ dan konsultasi ke psikolog untuk mengetahui potensi Zahid.

Sejujurnya saya agak jiper dengan Ibu-Ibu zaman now yang sangat gercep memberikan les ini dan itu bagi anak-anaknya. Saya sendiri tidak ingin membebani Zahid. Saya tidak ingin dia kehilangan masa-masa bermain. Saya dan suami berencana untuk mencarikan tempat Zahid belajar agama (tidak sekedar mengaji). Selama ini, kami berusaha mengajarkannya sendiri dirumah. How to nya masih harus kami cari agar tetap menyenangkan bagi Zahid.

Rencana kami 2,4,6 tahun kedepan yang paling penting adalah membina, mendampingi dan membangun karakter Zahid, agar Zahid tumbuh menjadi pribadi yang shaleh, tangguh, dan bertanggung jawab. Ini adalah fondasi yang mesti dibangun. Sama seperti pohon, agar menjulang tinggi keatas, akarnya harus kuat, sehingga sekencang apapun angin bertiup, ia tidak akan tumbang.

Tinggalkan Komentar