Day 4: Interaksi dengan lingkungan luar rumah

Situasi pandemi beberapa tahun terakhir ini sangat berdampak pada kemampuan Zahid dan Hanna bersosialisasi. Betapa tidak, semenjak 2020, anak-anak hanya berinteraksi dengan orangtuanya, kakek neneknya dan pengasuhnya di rumah saja. Di lingkungan rumah, kebetulan juga tidak banyak anak-anak seusia Zahid dan Hanna, sehingga mereka juga tidak punya teman sebaya. Sementara itu, sekolah juga lebih banyak pertemuan jarak jauh (PJJ). Kondisi ini sangat membatasi interaksi Zahid dan Hanna dengan orang lain diluar keluarganya.

Selama pandemi, saya pernah sekali mengajak Zahid ‘play date’ dengan anak teman saya yang usianya sebaya, Rayhan. Ketika bertemu pertama kali, Zahid canggung, dan bingung berkata apa. Kami mencoba mencairkan suasana dengan mengajak mereka bermain bersama. Tapi kemampuan Zahid untuk memulai percakapan dan mengajak bicara teman barunya, masih perlu diasah.

Ketika sekolah mulai pertemuan tatap muka, Zahid sangat antusias karena dapat bertemu kakak-kakaknya di sekolah dan teman-teman sekelasnya. Setiap pulang sekolah saya kerap menayakan Zahid, bagaimana di sekolah tadi, apakah menyenangkan, bermain apa saja dengan teman-teman, dan belajar apa saja disekolah.

Akhir-akhir ini, Zahid senang bermain dengan salah satu temannya di sekolah, Asyam. Pertama kali Zahid mengungkapkan keinginannya untuk bermain dengan Asyam karena Zahid mendengar bahwa Asyam suka bermain lego, sama seperti dirinya! Saya ingat sekali Zahid meminta saya untuk mengajak main ke rumah Asyam. Saya memotivasi Zahid untuk bertanya langsung kepada Asyam, tapi Zahid menggeleng kepalanya, malu-malu. Zahid, coba tanya Asyam, ‘Asyam, boleh gak Zahid main ke rumah Asyam?’ Zahid mengulang-ulang pertanyaan tersebut di rumah.

Singkat cerita, akhirnya Zahid berkesempatan main ke rumah Asyam, diantar oleh Abinya. Sayangnya saya tidak bisa mendampingi Zahid hari itu. Tidak ingin kehilangan momentum, saya menelepon Zahid dan Abinya mengirimkan foto-foto Zahid dan Asyam. Ketika pulang, Zahid begitu ceria, memeluk saya dan cerita betapa senangnya dia bermain dengan Asyam! Pada sore dan malam itu, Zahid berulang-ulang mengatakan, ‘Asyam teman Zahid selamanya, Asyam teman terbaik Zahid!’ Sangat mengharukan! Di hari libur, Zahid kembali mengajak main kerumah Asyam, dan saya senang sekali dapat menemaninya hari itu. Zahid menyiapkan sendiri mainan yang ingin dibawanya, termasuk mainan mobil remote control yang sudah ia charge malam harinya. Saya amati dari jauh, senang sekali melihat Zahid berinteraksi langsung dengan teman sebayanya, dengan senyum sumringah dan tawa canda.

Semoga gelombang ketiga ini lekas melandai dan pelajaran tatap muka dimulai kembali. Zahid sungguh kehilangan saat-saat bertemu dan bermain langsung dengan kakak dan teman-teman sekolahnya.

Zahid bermain dengan teman sekelasnya, Asyam

Day 3: Memilih buku di perpustakaan Tetum Bunaya

Sudah lama Zahid meminta dibelikan buku tentang listrik. Namun saya belum sempat browsing untuk mencari buku yang ia inginkan dan tidak terfikir sebelumnya untuk meminjam dari perpustakaan. Ketika mendapatkan tugas MOTyB untuk meminjam buku dari perpustakaan, Aha! kebetulan. Langsung saya panggil Zahid dan tanyakan buku apa yang ingin ia pinjam, meskipun saya sudah mengira buku tentang listrik. Betul saja, Zahid langsung menjawab, ‘listriik mi, kan waktu itu Zahid minta beliin buku listrik!’ Ketika saya mengetik kata kunci, keluar beberapa buku. Saya tunjukkan ke Zahid buku-buku yang tersedia di perpustakaan. Namun, Zahid kurang begitu tertarik. Saya tanyakan kembali ke Zahid, selain topik listrik, buku apa lagi yang Zahid ingin baca. Kami lalu melihat beberapa sampul buku yang tersedia di website, dan seketika Zahid tertarik dengan buku yang berjudul ‘BADAI’ karena melihat gambar petir. Saya amati, sejak kecil Zahid lebih tertarik buku-buku non-fiksi. Dia lebih senang membaca buku ensiklopedia. Tentang binatang, dinosaurus, tubuh manusia, bumi, luar angkasa, dsb. Buku cerita tidak begitu menarik baginya.

‘Zahid, ini ada banyak lho buku cerita, Zahid ga mau pinjam?’ Tanpa ragu menjawab, ‘gaaa, kan tadi Zahid dah bilang mau buku yang tadi, buku BADAI!’ 😊 Baiklah Zahid!

Hanna ikut mengamati saya dan Zahid saat memilih-milih buku. Ketika saya tanya mau pinjam buku yang mana, Hanna tertarik pada buku-buku cerita. Hanna begitu antusias melihat cover buku dengan gambar dan warna yang menarik. Karena saya tau Hanna suka sekali kucing, saya tanyakan apakah Hanna mau meminjam buku cerita tentang kucing. Ada beberapa buku yang Hanna tertarik, namun pilihannya terjatuh pada buku yang berjudul, ‘Woli Ingin Melihat Dunia.’ Hanna yakin dengan pilihannya seraya berkata kepada kakanya, Hanna pilih buku kucing! Berbeda dengan kakaknya, Hanna lebih tertarik pada buku cerita. Pada berbagai kesempatan, di rumah, perpustakaan sekolah atau toko buku, Hanna selalu memilih buku cerita dibanding buku-buku non fiksi. Ada satu ensiklopedia yang ia suka, yaitu binatang peternakan, karena Hanna suka sekali bebek!

Day 2: Emosi Zahid dan Ibadah Hanna

Cerita Zahid

Dua hari terakhir ini Zahid merengek minta dibuatkan es krim nanas. Zahid adalah anak yang gigih. Jika sudah punya keinginan atas sesuatu, ia akan terus meminta hingga keinginannya tercapai, atau hingga keinginannya itu dapat di negosiasikan atau ditunda. Kebetulan jadwal rapat hari itu penuh dari pagi hingga malam. Saya mencoba memberi pengertian sekadarnya kepada Zahid, bahwa saya sedang sangat sibuk, dan tidak ada waktu untuk membeli nanas hari ini, serta berjanji akan membeli nanas esok harinya. Zahid terus merengek, tidak mau mengerti, dan mengulang-ulang bahwa ia ingin sekali es krim nanas.

Dengan nada tinggi, saya membentak Zahid, ‘Mimi lagi kerja, Zahid!’ Zahid cemberut sembari menangis, ‘kenapa Mimi kerja terus?!’ dengan nada marah. Saya tidak menanggapi Zahid, karena memang sedang di tengah-tengah rapat, dimana saya harus berbicara.

Pada sore harinya, menyadari bahwa saya salah atas respon saya yang reaktif, saya meminta maaf kepada Zahid. Saya peluk dia sambil memberi pengertian (kali ini dengan suasana hati yang lebih tenang) sekali lagi, bahwa tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi seketika, dan berjanji untuk membeli nanas dan membuat es krim bersama-sama esok harinya. Zahid, dengan tulus memaafkan saya.

Saya perhatikan Zahid adalah anak yang ekspresif. Terkadang jika sedang marah, Zahid akan mengeraskan jari-jarinya (seperti ingin mencakar), terkadang membanting mainannya. Jika saya dalam keadaan ‘sadar’ saya dapat membantu mengarahkan Zahid memanage amarahnya, menenangkan ia, memeluknya. Namun seringkali saya khilaf dan tidak sabar, bukannya menenangkan malah membentaknya. Alhasil, bukannya mereda, justru Zahid akan lebih marah. Jika Zahid sedang sedih sekali, Zahid akan diam dan menjauh atau menghindar dari saya, dan meneteskan air matanya diam-diam. Saya langsung tahu pasti Zahid sangat terluka atas ucapan atau tindakan saya. Jika melihat Zahid seperti itu, saya langsung mendekatinya, menciumnya, memeluknya dan meminta maaf berulang kali, sampai hatinya merasa tenang kembali. Jika suasana hatinya sedang bahagia, akan terpancar jelas sekali dari wajahnya. Zahid biasanya akan berkata, ‘Mimi, hidup Zahid menyenangkan sekali!’ lebih membahagiakan lagi jika mendengar celetukan Zahid yang spontan ‘Mimiii, Zahid sayang Mimi!’

Dan ini pun ia lontarkan ketika esokannya, saya memenuhi janji saya membeli nanas dan membuat es-krim bersama-sama. Saat es-krim sudah jadi, langsung Zahid mencobanya dengan mata berbinar-binar, ‘ini enaaak bangeeet, makasih mimii, Zahid sayang mimi!’ Ah Zahid, hal sekecil ini bisa membuat mu begitu bahagia!

Ibadah Hanna

Hanna sudah diperkenalkan dengan sholat sejak kecil. Biasanya Hanna akan ikut berjamaah shalat Maghrib di rumah bersama saya atau Neneknya (pengasuhnya). Ketika di awal-awal, Hanna sering bercanda dengan kakaknya saat shalat, atau berlarian kesana-kemari. Sebelum shalat dimulai pun, mesti melalui berbagai drama: entah rebutan sajadah dengan kakaknya, rebutan posisi, dsb. Dan tidak jarang Hanna merajuk tidak jadi ikut shalat karena berantem dengan Zahid. Perlu energi yang kesabaran untuk mengkondisikan anak-anak shalat.

Belakangan ini, Hanna menunjukkan perkembangan. Hanna sudah mau mengikuti shalat dari awal sampai akhir dengan khusyuk. Meskipun kadang Zahid masih suka mengusili Hanna ketika shalat, Hanna tetap khusyuk shalat,dan bisa menahan diri untuk tidak membalas keusilan kakaknya. ‘Wah Hanna anak shalehah! shalatnya pintar sekali sampai selesai!’ Saya memuji Hanna, dan ia senyum dengan bangganya. Hanna juga sudah hafal surat Al-Fatihah dengan sendirinya, meski pelafalannya belum terlalu jelas. Apalagi sejak Hanna memiliki mukena baru (yang ia pilih sendiri motif dan warnanya di Shopee!), ia lebih semangat ikut shalat berjamaah.

Hanna mengaji Iqra setelah shalat Maghrib berjamaah

Day 1: Hari Minggu

Hari minggu adalah jadwal saya untuk keluarga. Mulai dari pagi hari, sarapan bersama, bermain, atau pergi berbelanja untuk kebutuhan sepekan kedepan, dan menemani anak-anak belajar. Selain menghabiskan waktu bersama anak-anak, hari Minggu juga adalah waktu bagi saya untuk istirahat dari kesibukan pekerjaan kantor.

Hari ini, saya menemani Zahid dan Hanna membaca buku. Ya, Zahid memang sedang belajar membaca. Alhamdulillah Zahid sudah bisa membaca sedikit-sedikit, meski belum begitu lancar. Hanna suka meniru apapun yang dilakukan oleh kakaknya, dia pun ingin belajar membaca. Bedanya, saya membacakan buku, dan Hanna mendengarkan dan meniru ucapan saya. Hanna dengan semangatnya mengambil buku favoritnya, bayi kuda poni! Di malam hari, setelah sholat maghrib bersama, Zahid dan Hanna membaca Iqro dan menghafal surat-surat pendek. Hanna sangat semangat sholat karena memiliki mukena dan sajadah baru yang dia pilih sendiri motif dan warnanya! Sementara Zahid, dengan bangganya murojaah surat yang sudah ia hafal!

Suasana hari Senin sangat sibuk. Pagi hari biasanya sudah ada jadwal rapat dan agenda pekerjaan yang mesti diselesaikan dari pekan sebelumnya. Seringkali saya tidak punya waktu banyak dengan anak-anak di jam kerja. Sebelum mulai aktivitas bekerja, saya menyiapkan sarapan anak-anak, memberikan vitamin dan suplemen anak-anak. Jika ada waktu, sesekali saya menengok Zahid yang sedang sekolah online. Hal yang seringkali terlewatkan dan perlu untuk diperbaiki kedepannya adalah mengecek agenda kegiatan sekolah Zahid seminggu kedepan. Tidak hanya itu, jadwal rutin rapat keluarga yang diinisiasi oleh suami saya, perlu lebih konsisten dijalankan untuk evaluasi dan planning seminggu kedepan.

Day 14: Pengalaman Menulis Jurnal

Ketika mendapatkan tugas MOTyB menulis jurnal di blog, sejujurnya perasaan saya deg-deg an. Secara teknis, saya tidak mengerti bagaimana membuat blog, dan seumur hidup tidak punya blog (jadi belajar deh karena MOTyB ini!) saya juga khawatir tidak dapat konsisten menulis setiap hari! Saya sebetulnya suka menulis. Saya menulis diary sejak SD – kuliah, dimana saya ceritakan kisah yang saya alami di sekolah dan di rumah. Diary adalah tempat saya mencurahkan perasaan saya, dan menceritakan rahasia yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapapun. Namun semenjak bekerja terlebih setelah berumah tangga, saya tidak pernah lagi menulis hingga saat ini.

Diawal-awal, saya merasakan sedikit kaku untuk menulis kembali, belum terbiasa untuk menulis yang bercerita tentang sesuatu (narrative). Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya menikmatinya. Disitu saya jadi dipicu untuk melakukan kontemplasi, melakukan percakapan dengan diri sendiri. Ada waktu sejenak untuk lepas dari segala kesibukan dan rutinitas setiap hari, to review and evaluate, tentang tumbuh kembang Zahid, tentang parenting yang kita lakukan. Dari kontemplasi itu, saya diingatkan untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan saya dalam mendidik dan membesarkan Zahid, secara tidak langsung.

Ketika menulis jurnal, saya tidak ingin hanya sekedar menulis dan menjalankan tugas. It will feel empty and plain, soul-less. Oleh karena itu saya membutuhkan waktu khusus untuk betul-betul sendiri dan menulis. Selama 14 hari ini, saya menulis jurnal biasanya pada malam hari, ketika semua urusan pekerjaan dan rumah tangga sudah tuntas, anak-anak dan suami sudah tidur, dan saya punya waktu sendiri. Ada hari-hari dimana saya kelelahan dan tertidur, sehingga tidak setiap hari dapat ‘menyetor’ tulisan di blog.

Saya merasakan manfaat yang besar sekali dari program MOTyB. Sesuai dengan nama programnya, menulis jurnal ini memfasilitasi saya untuk ‘bertumbuh’ menjadi Ibu yang lebih baik bagi anak-anak saya.

Terimakasih Tetum Bunaya, semoga kami dapat terus dibimbing untuk terus bertumbuh.

Day 13: Berlatih Mandiri

Zahid masih terus belajar untuk lebih disiplin dan konsisten makan sendiri, mandi sendiri, dan ke toilet (BAK) sendiri. Untuk memotivasi Zahid, saya sering mengatakan bahwa saya harus melaporkan kepada Ibu Guru tentang kemandirian Zahid. “Zahid sebentar lagi masuk sekolah lho, itu artinya Zahid sudah besar! Kalau sudah besar dan mau sekolah, sudah harus makan sendiri, mandi sendiri dan ke toilet sendiri.” Zahid memang sudah bisa makan sendiri, hanya saja belum konsisten sehari 3x. Terkadang, jika Zahid malas makan dan saya terburu-buru (tidak dapat menemani dan menunggunya) saya sering menyuapi Zahid agar lekas selesai. Ini tentu salah dan harus saya perbaiki.

Terkait dengan mandi, Zahid juga sudah bisa mandi sendiri, hanya saja masih minta bantuan saya untuk menggosok punggungnya. “Mimiii, Zahid senang dimandiin mimi, karena Zahid disayang-sayang.” Zahid sering membujuk saya untuk memandikannya. “Zahid mandi sendiri sendiri ya, nanti mimi bantu!” saya akan biasanya menawar. Setelah mandi, Zahid akan memakai baju sendiri.

Zahid sudah konsisten untuk BAK sendiri. Ya, tapi itu tadi, sering minta ditemani. Zahid lebih nyaman untuk menggunakan toilet di lantai 2 karena kamar mandinya kering. Sementara di lantai 1, kamar mandinya basah dan lebih sempit. Ini juga menjadi PR, karena Zahid harus bisa menggunakan toilet manapun. Semoga kedepannya kami dapat lebih konsisten melatih kemandirian Zahid.

Day 12: Surat untuk Zahid

Zahid anakku,
Mimi menulis surat ini ketika Zahid akan masuk TK. Perasaan mimi campur aduk nak. Bahagia, karena ini langkah besar dalam hidupmu. Ini adalah langkah pertama Zahid mulai meniti ilmu di sekolah. Waktu akan cepat berlalu dan kelak mimi dan abi akan melihat engkau tumbuh dewasa dalam sekejap mata. Tugas mimi dan abi adalah menguatkan sayap-sayapmu nak, sehingga ketika tiba masanya engkau akan mampu terbang tinggi ke angkasa, meraih cita-cita dan impianmu.

Zahid anakku,
Tujuan Zahid sekolah adalah untuk menuntut ilmu, gunakanlah ilmu yang akan Zahid raih agar bermanfaat bagi orang banyak. Karena ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala hingga kita telah tiada. Namun, ingat ya nak, menuntut ilmu tidak hanya di sekolah, sampai kapanpun kita harus terus belajar, karena belajar tentang kehidupan tidak ada batasnya. Belajarlah dari lingkungan, dari orang-orang yang kita temui, dari pengalaman yang Zahid alami.

Zahid anakku,
Gunakanlah ilmu yang akan Zahid raih untuk mendapatkan ridha Allah. Ilmu setinggi apapun, tidak ada manfaatnya jika tidak diamalkan dijalan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan niat untuk Allah semata, bukan untuk meraih gelar atau materi. Ilmu dan amal adalah bekal Zahid untuk mencapai surgaNya. Mimi berdoa agar Zahid tumbuh menjadi pribadi yang shaleh dan bahagia. Maafkan segala kekurangan dan kesalahan mimi dan abi dalam mendidik dan membesarkanmu ya nak. Maafkan mimi yang suka marah-marah, sering tidak sabar. Mimi dan abi masih harus terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

Zahid anakku,
Ketika engkau membaca surat ini, mimi sudah tua dan keriput. Ingatkah dulu Zahid pernah menangis ketika mimi bilang, bahwa mimi akan tua dan meminta Zahid untuk tetap sayang dan tidak melupakan mimi. Ingatkah dulu Zahid berkata, “ ait ga mau mimi tua, ait sedih, ait sayang mimi…” sambil memeluk mimi erat. Itu adalah momen terindah dalam hidup mimi, mimi akan terus mengingatnya. Dan semoga Zahid juga selalu ingat dan merasakan, bahwa mimi sangat sayang Zahid sampai kapanpun.

Day 11: Toilet Training

Sejujurnya, ingatan saya tentang toilet training Zahid agak samar-samar. Seingat saya, mengajarkan Zahid untuk pee di toilet tidak begitu sulit. Zahid lepas pampers usia 2 tahun kurang.

Zahid tergolong anak yang risihan. Dia tidak suka kalau bajunya atau celananya basah sedikit saja, dia akan minta ganti. Hal ini memudahkan toilet training Zahid.

Seingat saya, Zahid tidak pernah mengompol. Dia akan bilang kalau mau pee. Saat ini, Zahid sudah mandiri pee sendiri, tetapi masih harus ditemani jika ke toilet. Bulan lalu Zahid baru saja disunat dan meminta bantuan orang tuanya untuk membersihkan setelah pee.

Day 10: Beautiful Memories

Bagaimana perasaan saya ketika membaca kembali jurnal ini dari awal? Tentu ada rasa bahagia membaca kembali momen-momen kebersamaan dengan Zahid, teringat kembali tingkah lakunya, kata-katanya, perasaannya. Dan tercurahkan dalam sebuah tulisan, hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Ada perasaan, kenapa ga dari dulu ya!

Momen-momen ini akan menjadi memori yang begitu berharga dikemudian hari. Dan tidak hanya itu, ternyata mencatat milestones perkembangan anak itu penting (Duh, baru sadar!) Saya pun jadi bertanya ke diri sendiri, have i spent enough quality time with my son? What have i done so far to help him grow to the optimal extent? Am I a good mother? Am I raising my son well?

Ada juga perasaan sedih, jika nanti kembali bekerja di kantor, waktu saya bersama Zahid tidak akan sebanyak saat ini ketika berkerja dari rumah karena pandemi 😦

Saya ingin melanjutkan menulis jurnal tentang Zahid meski nanti program MOTYB telah selesai. Agar saya dapat terus melakukan refleksi diri, dan terdorong untuk menjadi ibu yang lebih baik. Semoga bisa konsisten ya!

Day 9: Membaca Buku (3)

Di perjalanan pulang dari sekolah, Zahid meminta langsung dibacakan buku yang telah dipilihnya dari perpustakaan, yaitu buku: Cican Pesta Buah dan Sayur.

Ketika dibacakan buku, Zahid bertanya, mimi pesta itu apa? Saya jawab, kumpul-kumpul mengundang orang-orang datang ke rumah dan bersenang-senang. Sambil membaca, saya ajak Zahid untuk sebutkan nama-nama buah dan sayur yang ada di buku. Zahid dan adiknya pun berebutan untuk menjawab.

Di halaman paling akhir, saya turut menyanyikan lagu, meniru lagu yang dinyanyikan Cican. Zahid tersenyum tipis. Setelah membaca, saya ingatkan kepada Zahid, bahwa ini adalah buku pinjaman. Kita harus menjaganya dengan baik, dan harus mengembalikannya ke sekolah. Zahid pun mengangguk, oke Mimi!