Situasi pandemi beberapa tahun terakhir ini sangat berdampak pada kemampuan Zahid dan Hanna bersosialisasi. Betapa tidak, semenjak 2020, anak-anak hanya berinteraksi dengan orangtuanya, kakek neneknya dan pengasuhnya di rumah saja. Di lingkungan rumah, kebetulan juga tidak banyak anak-anak seusia Zahid dan Hanna, sehingga mereka juga tidak punya teman sebaya. Sementara itu, sekolah juga lebih banyak pertemuan jarak jauh (PJJ). Kondisi ini sangat membatasi interaksi Zahid dan Hanna dengan orang lain diluar keluarganya.
Selama pandemi, saya pernah sekali mengajak Zahid ‘play date’ dengan anak teman saya yang usianya sebaya, Rayhan. Ketika bertemu pertama kali, Zahid canggung, dan bingung berkata apa. Kami mencoba mencairkan suasana dengan mengajak mereka bermain bersama. Tapi kemampuan Zahid untuk memulai percakapan dan mengajak bicara teman barunya, masih perlu diasah.
Ketika sekolah mulai pertemuan tatap muka, Zahid sangat antusias karena dapat bertemu kakak-kakaknya di sekolah dan teman-teman sekelasnya. Setiap pulang sekolah saya kerap menayakan Zahid, bagaimana di sekolah tadi, apakah menyenangkan, bermain apa saja dengan teman-teman, dan belajar apa saja disekolah.
Akhir-akhir ini, Zahid senang bermain dengan salah satu temannya di sekolah, Asyam. Pertama kali Zahid mengungkapkan keinginannya untuk bermain dengan Asyam karena Zahid mendengar bahwa Asyam suka bermain lego, sama seperti dirinya! Saya ingat sekali Zahid meminta saya untuk mengajak main ke rumah Asyam. Saya memotivasi Zahid untuk bertanya langsung kepada Asyam, tapi Zahid menggeleng kepalanya, malu-malu. Zahid, coba tanya Asyam, ‘Asyam, boleh gak Zahid main ke rumah Asyam?’ Zahid mengulang-ulang pertanyaan tersebut di rumah.
Singkat cerita, akhirnya Zahid berkesempatan main ke rumah Asyam, diantar oleh Abinya. Sayangnya saya tidak bisa mendampingi Zahid hari itu. Tidak ingin kehilangan momentum, saya menelepon Zahid dan Abinya mengirimkan foto-foto Zahid dan Asyam. Ketika pulang, Zahid begitu ceria, memeluk saya dan cerita betapa senangnya dia bermain dengan Asyam! Pada sore dan malam itu, Zahid berulang-ulang mengatakan, ‘Asyam teman Zahid selamanya, Asyam teman terbaik Zahid!’ Sangat mengharukan! Di hari libur, Zahid kembali mengajak main kerumah Asyam, dan saya senang sekali dapat menemaninya hari itu. Zahid menyiapkan sendiri mainan yang ingin dibawanya, termasuk mainan mobil remote control yang sudah ia charge malam harinya. Saya amati dari jauh, senang sekali melihat Zahid berinteraksi langsung dengan teman sebayanya, dengan senyum sumringah dan tawa canda.
Semoga gelombang ketiga ini lekas melandai dan pelajaran tatap muka dimulai kembali. Zahid sungguh kehilangan saat-saat bertemu dan bermain langsung dengan kakak dan teman-teman sekolahnya.











